The only hypnotherapy school in Indonesia approved by American Council of Hypnotist Examiners (ACHE), USA

Artikel


Pentingnya Sesi Wawancara Awal

4 Juli 2022

Ada sejawat hipnoterapis, setelah membaca tulisan saya di FB, bertanya pada saya mengapa sesi hipnoterapi yang saya lakukan bisa berlangsung antara 3 hingga 4 jam. Menurutnya, ini sangat lama dan tentu akan membuat klien bosan. 

Saya tanya balik, menurut dia, berapa lama idealnya durasi satu sesi hipnoterapi, baik menggunakan teknik sugesti atau hipnoanalisis. 

Menurutnya, untuk sesi terapi menggunakan teknik sugesti hanya butuh waktu antara 30 hingga 45 menit. Sementara untuk terapi dengan teknik hipnoanalisis, antara 60 hingga 90 menit. 

Saya jelaskan, saya tidak bisa melakukan hipnoterapi dengan waktu yang sedemikian singkat. Menurut sejawat ini, mestinya bisa. 

Saya tentu sangat tertarik ingin mengetahui lebih lanjut. Saya tanya, khususnya untuk terapi dengan teknik hipnoanalisis, berapa lama sesi wawancara yang ia lakukan pada kliennya. 

Ia menjawab, untuk sesi wawancara tidak perlu lama-lama. Berdasar pengalaman praktiknya, informasi yang diperoleh melalui sesi wawancara tidak bisa mengungkap akar masalah. 

Daripada menghabiskan banyak waktu bertanya pada klien, yang ternyata tidak bisa mengungkap akar masalah, bukankah lebih baik, menurutnya, sesi wawancara dibuat singkat dan klien langsung diterapi. Ini tentu sangat menghemat waktu. 

Saya bisa memahami pendapatnya. Benar sekali, dari pengalaman praktik selama ini, bisa dibilang 99% akar masalah selalu berbeda dengan informasi yang disampaikan klien saat sesi wawancara.

Walau demikian, kami, hipnoterapis AWGI, tetap menempatkan sesi wawancara (anamnesis) sebagai langkah awal utama dalam setiap terapi yang kami lakukan. 

Umumnya kami butuh waktu antara 60 hingga 90 menit untuk sesi wawancara, baik dilakukan pada klien (autoanamnesis) maupun pada anggota keluarga atau orang dekat yang tahu kondisi klien (alloanamnesis). Bergantung kebutuhan, dalam situasi dan kondisi tertentu, wawancara bisa berlangsung hingga dua jam. 

Dalam sesi wawancara terapis tidak sekadar menggali informasi yang dibutuhkan dan relevan dengan masalah klien. Ada banyak yang terjadi, antara lain terapis membangun relasi dengan klien, membangun rasa percaya klien pada terapis, memberi edukasi tentang kondisi yang klien alami, menjawab hal yang masih belum dimengerti, meluruskan mispersepsi, memberi klien data atau informasi yang ia butuhkan untuk dapat melihat dan mengerti kondisinya dengan perspektif yang lebih konstruktif, dan masih banyak lagi. 

Terapi, menurut protokol AWGI, telah dimulai saat klien tahu bahwa ia punya masalah dan mencari informasi tentang terapis yang bisa membantunya. Pada tahap ini, klien telah siap (𝘳𝘦𝘒π˜₯𝘺) dan bersedia (𝘸π˜ͺ𝘭𝘭π˜ͺ𝘯𝘨) untuk mengatasi masalahnya. 

Terapi berlanjut saat klien jumpa terapis di ruang praktik. Cukup sering kami temukan, hanya di sesi awal, dengan kami mendengarkan keluhan, mengerti kondisi dan situasi klien, memberi dukungan emosi, melakukan edukasi yang klien butuhkan, masalah klien selesai dan teratasi.

Ini terjadi karena klien mengalami peningkatan kesadaran. Dan dengan kesadaran barunya, ia tidak lagi memandang kondisinya sebagai sesuatu yang mengganggu dan bermasalah. Bila sudah seperti ini, kami tidak perlu lanjut ke terapi formal. 

Dalam protokol hipnoterapi AWGI, kelancaran proses dan hasil terapi sangat dipengaruhi dan ditentukan capaian di sesi wawancara. Terapi formal hanya boleh dilakukan setelah sesi wawancara dinilai berhasil dan matang. 

Terapi formal butuh waktu antara 1,5 jam hingga 3 jam, bergantung situasi dan kondisi klien. Dengan demikian, total waktu untuk satu sesi hipnoterapi yang kami lakukan berkisar antara 2,5 jam higga 4 jam. Untuk kasus tertentu, total waktu hipnoterapi bisa hingga 5 jam. 

Klien seringkali tidak menyadari durasi terapi yang ia jalani. Sangat sering, setelah sesi terapi, saya bertanya pada klien, berapa lama, menurutnya, sesi terapi yang ia jalani. Klien menjawab sekitar 30 menit. Padahal, kenyataannya, total waktu sekitar 4 jam. 

Ini terjadi karena saat dalam kondisi hipnosis dalam, klien mengalami fenomena mental kontraksi waktu. Waktu yang panjang terasa sangat singkat. 

Proses terapi yang kami lakukan berpusat pada klien (c𝘭π˜ͺ𝘦𝘯𝘡 𝘀𝘦𝘯𝘡𝘦𝘳𝘦π˜₯) bukan berpusat pada terapis (𝘡𝘩𝘦𝘳𝘒𝘱π˜ͺ𝘴𝘡 𝘀𝘦𝘯𝘡𝘦𝘳𝘦π˜₯). Kami melakukan apapun upaya yang dibutuhkan untuk bisa membantu klien mengatasi masalahnya dengan tuntas, seturut kecepatan yang diizinkan oleh pikiran bawah sadar klien. 

Demikialah adanya...

Demikianlah kenyatannya...

Baca Selengkapnya

Teori SECH Tidak Sejalan dengan Teori Psikoanalisis?

7 April 2022

Seorang sahabat tertarik ingin belajar hipnoterapi di AWGI (Adi W. Gunawan Institute of Mind Technology). Sebelum memutuskan ikut kelas SECH (Scientific EEG & Clinical Hynotherapy), ia mengajukan beberapa pertanyaan, yang menurutnya sangat penting, untuk saya jawab dan klarifikasi. 

Sahabat ini sarjana ilmu psikologi dan menurutnya teori yang saya ajarkan tidak sejalan dengan teori psikoanalisis Sigmund Freud. Ia minta penjelasan saya tentang hal ini. 

Saya balik bertanya padanya, "Dari mana anda tahu bahwa bahwa teori yang saya ajarkan tidak sejalan dengan teori psikoanalisis? Apakah teori psikonalisis adalah mutlak benar? Dan mengapa anda hanya terpaku pada teori psikoanalisis Freud?"

Saya ingat beberapa tahun lalu, di kelas SECH hadir seorang psikolog klinis. Di hari pertama, saat saya memaparkan materi, tiba-tiba Beliau bertanya, "Pak Adi, mohon maaf. Saya perlu terus terang menyampaikan hal ini. Yang Pak Adi ajarkan ini bisa dibilang berbeda atau bertolak belakang dengan teori psikologi yang saya dalami."

Beliau kemudian menjelaskan teori yang dimaksud. Saya mendengar dengan saksama dan setelah Beliau selesai menjelaskan, Beliau bertanya, "Teori yang Pak Adi jelaskan ini teori siapa? Saya belum pernah tahu atau dengar tentang teori ini."

Sambil tersenyum dan dengan santai saya jawab bahwa yang saya ajarkan adalah teori psikologi dalam (deep psychology) versi Adi W. Gunawan. 

Saya kemudian menjelaskan tentang grand theory dan grounded theory. Teori yang saya bangun dari temuan-temuan di ruang praktik sejak tahun 2005 adalah grounded theory, seperti yang diperkenalkan oleh Glaser dan Strauss dalam buku The Discovery of Grounded Theory: Strategies for Qualitative Research (1967). 

Dan bila teori saya tidak sejalan dengan teori yang sudah ada, tidak berarti teori saya salah. 

Berlandaskan teori yang saya bangun, saya mengembangkan pendekatan, strategi, protokol dan teknik terapi yang saya gunakan di ruang praktik membantu klien mengatasi beragam masalah yang berhubungan dengan emosi dan perilaku. 

Dan sejauh ini, hasil terapi yang berhasil dicapai adalah konsisten sangat positif. Demikian pula hasil yang yang dicapai oleh para hipnoterapis AWGI.

Untuk mudahnya, saran saya, lupakan semua teori yang ada. Lebih baik tidak tahu teori tapi bisa mencapai hasil yang sangat baik. Dan tentu akan sangat ideal bila praktisi hipnoterapi mengerti benar teori yang menjadi landasan praktiknya. 

Saya sarankan sahabat ini, bila ia benar ingin belajar hipnoterapi di AWGI, ia tidak boleh mengosongkan gelas, tapi ia harus menggunakan gelas baru. 

Nanti setelah belajar materi hipnoterapi SECH, mendengar ulasan mendalam, diskusi contoh kasus, melihat langsung terapi yang dilakukan di depan kelas, dan melakukan praktik, barulah ia mampu mengerti esensi teori yang diajarkan di kelas SECH. 

Saya lanjut bertanya pada sahabat ini, "Saya mencipta The Heart Technique® (THT), yang adalah integrasi dari banyak pendekatan terapi. Dengan THT saya mampu membantu klien mengatasi masalah yang berhubungan dengan emosi, dengan sangat cepat. Untuk menyembuhkan fobia dengan muatan emosi sangat intens, saya hanya butuh waktu sekitar 15 menit saja. Bisa tolong jelaskan pada saya, menggunakan teori psikologi yang pernah anda pelajari, apakah fobia dengan muatan emosi sangat intens, bisa disembuhkan hanya dalam waktu sangat singkat, 15 menit saja?"

Sahabat ini kesulitan menjelaskan cara kerja THT berdasar teori yang pernah ia pelajari. Saya jelaskan bahwa bila ia tidak bisa menjelaskan, ini tidak berarti tidak ada teori yang bisa digunakan untuk menjelaskan cara kerja THT. Dan ini juga tidak berarti THT salah. Bagaimana bisa salah, dalam konteks teori, bila ternyata hasil yang dicapai nyata positif dan baik adanya. 

Saya yakin pasti ada teori yang bisa dengan gamblang menjelaskan cara kerja THT. Namun ia belum pernah memelajari teori ini. 

Pesan saya padanya, ia perlu selalu berpikiran terbuka, lentur, dan dinamis. Ia tidak boleh kaku dan kukuh hanya pada satu teori saja. Bila suatu teori ternyata tidak lagi bisa memenuhi kebutuhan, segera cari teori lain. 

Baca Selengkapnya

Komponen Sugesti

8 Februari 2022

Ada banyak definisi sugesti bergantung pandangan dan pemahaman masing-masing pakar atau praktisi. Saya mendefinisikan sugesti sebagai metode komunikasi bertujuan menghasilkan penerimaan dan pelaksanaan penuh keyakinan atas pesan yang disampaikan, tanpa melibatkan penilaian kritis terhadap alasan penerimaan pesan, dan mengakibatkan perubahan penilaian, pendapat, sikap, dan atau perilaku. 

Konsep sugesti dapat didekati melalui beberapa cara. Pertama, melalui metode, cara, atau kanal komunikasi yang digunakan. Bila sugesti ditilik dari cara penyampaiannya, dikenal dua jenis sugesti yaitu heterosugesti, sugesti yang disampaikan seseorang kepada orang lain, dan autosugesti (sugesti intrapersonal) yaitu sugesti yang dilakukan seseorang kepada dirinya sendiri. 

Sugesti dapat didekati melalui variabel situasional dan kontekstual. Kondisi aktual saat sugesti diberikan berpengaruh pada kecenderungan sugesti diterima dan dijalankan. Sugesti yang diberikan dalam situasi klinis, di ruang praktik, di laboratorium untuk penelitian, dan di tempat umum berpengaruh pada derajat respon dan nonrespon terhadap sugesti. 

Sugesti juga dapat ditilik melalui sumber sugesti, bisa bersifat privat atau publik. Pada umumnya dipahami bahwa sugesti bekerja pada level privat, yaitu satu individu mendapat atau menerima sugesti yang berasal baik dari orang lain atau dirinya sendiri. Di sisi lain, sugesti juga dapat diberikan dan diterima secara kolektif melalui sugesti massal. 

Komponen lain sugesti adalah cara ia dilakukan. Ada sugesti berisi pesan jelas, dan ada yang sengaja dibuat tidak jelas. Ada pula berupa sugesti verbal dan nonverbal. Sugesti nonverbal butuh dukungan tambahan fungsi kognisi, terutama penglihatan, guna memastikan pesan yang disampaikan diterima dengan baik dan meningkatkan kecenderungan respon terhadap sugesti. 

Sugesti, selain bisa berupa pesan verbal atau nonverbal, juga bisa dalam bentuk pesan visual, baik yang telah dirancang sedari awal atau yang dimunculkan secara spontan saat sugesti diberikan. 

Daya (power) sugesti juga berpengaruh terhadap penerima. Sugesti yang diberikan secara lembut akan dipersepsi dan dimaknai berbeda dibanding sugesti yang melibatkan emosi dan diberikan dengan tegas. Respon dari pemberian sugesti ini bisa berupa makna bahwa isi sugesti adalah "permintaan" atau "perintah" untuk dilaksanakan. 

Komponen yang berpengaruh besar dan mampu meningkatkan daya sugesti adalah durasi pemberian sugesti. Sugesti yang diberikan secara singkat dan hanya sekali berdampak beda dibanding sugesti diberikan untuk waktu lebih lama dan berulang. 

Keefektifan sugesti yang tampak dalam bentuk kecenderungan penerima sugesti melakukan pesan yang disampaikan juga ditentukan atau dipengaruhi oleh karakteristik dan otoritas pemberi sugesti. Semakin tinggi otoritas pemberi sugesti, baik riil atau hanya berdasar persepsi, semakin kuat pengaruh sugesti yang diberikan terhadap penerima. 

Tingkat keefektifan sugesti juga dipengaruhi oleh motivasi, kesiapan, dan kesediaan penerima sugesti untuk menerima dan menjalankan sugesti. Semakin tinggi motivasi kesiapan, dan kesediaan semakin mudah sugesti diterima dan bekerja atau dilaksanakan. 

Komponen lain dalam sugesti adalah waktu pemberian sugesti (timing), jenis pesan, perhatian, dan pemahaman penerima terhadap pesan yang diberikan. 

Sugesti juga dipengaruhi konten aktual dari pesan yang diberikan dan target yang hendak dicapai. Ada sugesti berisi pesan dengan tujuan memengaruhi proses sensori dan mengakibatkan terjadinya distorsi sensori (De Pascalis dan Daddia, 1985; Gheorhiu dan Reyher, 1982), dan ada yang bertujuan memengaruhi proses sesori-motor (Gheorghiu dan Walter, 1989), dan ada pula sugesti yang secara khusus dirancang untuk menarget proses memori (Gudjonsson, 1983; Loftus, 1979). 

Dan yang terakhir, dalam konteks klinis, komponen dan determinan penting sugesti diterima dan dijalankan adalah kondisi kesadaran penerima sugesti saat sugesti diberikan. Keefektifan penerimaan sugesti secara umum dapat dikatakan ditentukan oleh kedalamam rileksasi pikiran. Semakin dalam rileksasi pikiran, semakin baik. 

Baca Selengkapnya

Meditasi, Mindfulness, Hipnosis, dan Hipnoterapi

8 Januari 2022

 Artikel ini bertujuan menjelaskan kesamaan, perbedaan, dan manfaat meditasi, mindfulness, hipnosis dan hipnoterapi.

 

Hipnosis dan meditasi masing-masing merujuk pada rangkaian luas praktik berasal dari tradisi panjang dalam sejarah dan budaya sangat berbeda. Mereka menggunakan dan melibatkan beragam aktivitas kognisi, afeksi, perilaku, dan bertujuan mencapai sejumlah besar hasil terapeutik dan spiritual, mulai dari analgesia hingga pencerahan (enlightenment).

Praktik meditasi dan mindfulness (perhatian penuh) jauh mendahului pemanfaatan hipnosis untuk tujuan terapeutik, dan dapat ditelusuri hingga lebih dari 2.000 tahun lalu, saat Buddha menjelaskan meditasi sebagai cara melepas kelekatan pada bentuk-bentuk pikiran, perasaan, dan perilaku atau kebiasaan yang sifatnya mengganggu (Lyn dkk, 2006).

Keragaman di antara tujuan dan teknik dalam domain-domain ini mengakibatkan tantangan serius dalam upaya menetapkan definisi inklusif dari praktik masing-masing.

Di luar keragaman aktivitas dalam praktik hipnosis dan meditasi, inkonsistensi interpretasi terhadap istilah utama, seperti hipnosis (Kirsch dkk, 2011) dan mindfulness (Williams dan Kabat-Zinn, 2011) – semakin membuat kabur konsep utama dan menghambat kemajuan penelitian dalam topik ini.

Meditasi biasanya dipahami lebih berdasar efek yang dihasilkannya. Ada yang mendefinisikan meditasi sebagai teknik relaksasi (Benson, 1975). Definisi ini berimplikasi pada kemiripan masalah yang ditemui dalam literatur tentang relaksasi (Davidson dan Schwartz, 1976), yang menyatakan bahwa teknik relaksasi adalah teknik yang menghasilkan efek-efek tertentu, seperti berkurangnya ketegangan otot, dan menurunnya keaktifan sistem saraf simpatik.

Tentunya, cara mendefinisikan meditasi berdasarkan efek yang dihasilkannya, menggunakan variabel dependen untuk mendefinisikan variabel independen, bukanlah cara yang tepat dan memuaskan, dan tidak mampu menghasilkan definisi akurat.

Masalah lain dalam mendefinisikan meditasi adalah terdapat begitu banyak jenis atau teknik meditasi. Ada teknik meditasi yang dilakukan dengan postur tubuh duduk dan menghasilkan kondisi tenang dan rileks (Wallace, Benson, dan Wilson, 1971). Kegiatan meditasi lainnya dilakukan dengan duduk diam dan menghasilkan kondisi gembira dan semangat (Das dan Gastaut, 1955; Croby dkk, 1978).

Sementara teknik lainnya, seperti tarian berputar Sufi, Tai Chi, dan Hatha yoga melibatkan gerakan fisik hingga taraf tertentu (Naranjo dan Ornstein, 1971; Hirai, 1974). Kadang, “meditasi bergerak” ini menghasilkan kondisi gembira, kadang kondisi rileks (Fischer, 1971; Davidson, 1976). Bergantung pada tipe meditasi yang dilakukan, tubuh dapat aktif dan bergerak, atau relatif diam dan pasif.

Walau terdapat banyak teknik, bila dicermati, sejatinya hanya terdapat tiga kelompok besar strategi dan regulasi perhatian yang digunakan dalam meditasi: fokus pada objek spesifik di dalam medan perhatian (meditasi konsentrasi – samatha), fokus pada medan perhatian (meditasi perhatian penuh – vipassana / mindfulness), dan bergeser antara keduanya. Perhatian dalam konteks ini mengacu secara luas pada alokasi sumber daya pemrosesan kognitif.

Pola fokus seperti ini sejalan dengan mekanisme otak dalam memerhati, seperti yang dijelaskan Pribram (1971), serupa dengan kamera dan bekerja dengan dua cara. Pertama, fokus kamera seperti pada lensa sudut lebar – kesadaran luas dan menyapu semua medan perhatian (meditasi mindfulness). Kedua, tipe perhatian serupa dengan lensa tele (zoom), secara spesifik fokus hanya pada segmen terbatas di medan perhatian (meditasi konsentrasi).

Mengacu pada perspektif Buddhis, para ilmuwan secara umum mengelompokkan praktik meditasi ke dalam dua kategori: meditasi konsentrasi /samatha dan meditasi pengamatan terbuka / vipassana (Lutz dkk, 2008).

Meditasi konsentrasi (samatha) atau perhatian terpusat melibatkan konsentrasi pada satu objek spesifik di dalam medan perhatian, seperti napas, mantra atau kalimat doa yang diulang. Sementara meditasi pengamatan terbuka (vipassana) melibatkan perluasan perhatian dengan mengikutsertakan seluruh bidang perhatian dari satu momen pengalaman ke momen pengalaman berikutnya.

Walau pembagian meditasi secara konseptual menjadi dua jenis cukup bermanfaat, banyak praktik meditasi tidak secara tegas masuk ke dalam skema keduanya, seperti praktik meditasi cinta kasih dan visualisasi (Lutz, Dunne, dan Davidson, 2006).

Menggunakan mekanisme perhatian sebagai dasar untuk menetapkan definisi, dapat dinyatakan bahwa meditasi merujuk pada sekumpulan teknik dengan kesamaan berupa upaya sadar dalam mengarahkan dan memusatkan perhatian secara nonanalitikal, dan sebuah upaya sadar untuk tidak larut dalam bentuk-bentuk pikiran dan perasaan yang muncul.

 

Meditasi Buddhis dan Mindfulness

Ajaran Buddha tentang meditasi perhatian penuh (mindfulness), singkat dan jelas. Ajaran ini tertulis dalam Δ€nāpānasati sutta dan Satipatthana sutta. Keduanya menjelaskan metode sistematis untuk mengolah dan mengembangkan kesadaran, dengan secara khusus memerhatikan napas masuk dan keluar. Dalam Δ€nāpānasati sutta, Buddha menyatakan:

[1] Menarik napas panjang, ia menyadari, "Aku sedang menarik napas panjang." Mengembuskan napas panjang, ia menyadari, "Aku sedang mengembuskan napas panjang."

[2] Menarik napas pendek, ia menyadari, "Aku sedang menarik napas pendek." Mengembuskan napas pendek, ia menyadari, "Aku sedang mengembuskan napas pendek."

[3] Ia berlatih sebagai berikut, "Aku akan menarik napas dengan mengalami seluruh tubuh (atau napas)." Ia berlatih sebagai berikut, "Aku akan mengembuskan napas dengan mengalami seluruh tubuh (atau napas)."

[4] Ia berlatih sebagai berikut, "Aku akan menarik napas dengan menenangkan bentukan jasmani." Ia berlatih sebagai berikut, "Aku akan mengembuskan napas dengan menenangkan bentukan jasmani."

(Buddhadasa, 1988, p. 147)

 

Uraian ini menunjukkan bahwa Buddha memandang napas baik sebagai (1) objek kesadaran (“[1] Menarik napas panjang, ia menyadari, "Aku sedang menarik napas panjang.") dan (2) sarana untuk mengarahkan perhatian (“[3] ] Ia berlatih sebagai berikut, "Aku akan menarik napas dengan mengalami seluruh tubuh (atau napas).").

Praktisi meditasi, dengan demikian, tidak hanya secara berkesinambungan memerhatikan napas, juga memanfaatkan proses ini untuk mengembangkan kesadaran pada berbagai aspek diri sebagai bagian dari latihan mental.

Uraian berikutnya menggambarkan kesadaran perhatian penuh terhadap perasaan dan persepsi ([5] hingga [8]), pikiran dan kehendak ([9] hingga [12]), dan ketidakkekalan fenomena ([13] hingga [16]). 

[5] Ia berlatih sebagai berikut, “Aku akan menarik napas dengan mengalami sukacita.” Ia berlatih sebagai berikut, “Aku akan mengembuskan napas dengan mengalami sukacita.”

[6] Ia berlatih sebagai berikut, “‘Aku akan menarik napas dengan mengalami kenikmatan.” Ia berlatih sebagai berikut, “Aku akan mengembuskan napas dengan mengalami kenikmatan.”

[7] Ia berlatih sebagai berikut, “Aku akan menarik napas dengan mengalami bentukan batin.” Ia berlatih sebagai berikut, “Aku akan mengembuskan napas dengan mengalami bentukan batin.”

[8] Ia berlatih sebagai berikut, “Aku akan menarik napas dengan menenangkan bentukan batin.” Ia berlatih sebagai berikut, “Aku akan mengembuskan napas dengan menenangkan bentukan batin.”

[9] Ia berlatih sebagai berikut, “Aku akan menarik napas dengan mengalami pikiran.” Ia berlatih sebagai berikut, “Aku akan mengembuskan napas dengan mengalami pikiran.’”

[10] Ia berlatih sebagai berikut, “Aku akan menarik napas dengan menggembirakan pikiran.” Ia berlatih sebagai berikut, “Aku akan mengembuskan napas dengan menggembirakan pikiran.”

[11] Ia berlatih sebagai berikut, “Aku akan menarik napas dengan mengonsentrasikan pikiran.” Ia berlatih sebagai berikut, “Aku akan mengembuskan napas dengan mengonsentrasikan pikiran.”

[12] Ia berlatih sebagai berikut, “Aku akan menarik napas dengan membebaskan pikiran.” Ia berlatih sebagai berikut, “Aku akan mengembuskan napas dengan membebaskan pikiran.”

[13] Ia berlatih sebagai berikut, “Aku akan menarik napas dengan merenungkan ketidakkekalan.” Ia berlatih sebagai berikut, “Aku akan mengembuskan napas dengan merenungkan ketidakkekalan.”

[14] Ia berlatih sebagai berikut, “Aku akan menarik napas dengan merenungkan peluruhan.” Ia berlatih sebagai berikut, “Aku akan mengembuskan napas dengan merenungkan peluruhan.”

[15] Ia berlatih sebagai berikut, “Aku akan menarik napas dengan merenungkan lenyapnya.” Ia berlatih sebagai berikut, “Aku akan mengembuskan napas dengan merenungkan lenyapnya.”

[16] Ia berlatih sebagai berikut, ”Aku akan menarik napas dengan merenungkan lepasnya.” Ia berlatih sebagai berikut, “Aku akan mengembuskan napas dengan merenungkan lepasnya.”

 

Berdasar mekanisme perhatian yang terlibat dalam meditasi, secara ringkas meditasi dapat didefinisikan sebagai kegiatan membawa pikiran dengan penuh kesadaran pada satu objek tertentu (Paññāvaro, 2016). Sementara menurut Wise (2009) meditasi adalah kondisi kesadaran dengan pola gelombang otak sangat spesifik. Kondisi meditatif ini dicapai dengan teknik sesuai.

Dalam meditasi, perhatian dapat secara aktif diarahkan pada satu objek konsentrasi dengan mengabaikan objek lainnya (Anand, Chinna, dan Singh, 1961). Perhatian juga dapat fokus pada satu objek, tetapi saat objek lain, bentuk-bentuk pikiran, atau perasaan muncul, mereka dapat dikenali sejenak, kemudian perhatian diarahkan kembali pada objek semula, seperti dalam meditasi vipassana dan transendental. Perhatian juga dapat tidak difokuskan eksklusif pada objek tertentu, seperti dalam Zen Shikan Taza (Kasamatsu dan Hirai, 1966; Krishnamurti, 1979).

Mindfulness adalah sebuah kata, digunakan dalam banyak cara. Definisinya bergantung pada siapa yang menggunakannya dan dalam konteks apa. Mindfulness adalah terjemahan dari bahasa Pali sati, Sansekerta smrti, Mandarin nian, dan Tibet dran pa, bermakna kesadaran (awareness), perhatian (attention), dan pengingatan (remembering) (Germer, 2004). 

Mindfulness adalah satu bentuk meditasi Buddhis yang berakar pada tradisi Theravada di Asia Tenggara. Walau istilah mindfulness telah banyak digunakan, hingga saat ini belum ada konsensus definisinya di antara para peneliti karena keragaman prosedural dan kompleksitas fenomenologis terkait praktik mindfulness (Lifshitz et al., 2012; Otani, 2016; Pekala & Creegan, 2020). 

Konsep mindfulness (perhatian penuh) mulai populer di Barat sejak Jon Kabat-Zinn (1991, 1994) mengembangkan teknik reduksi stres berbasis mindfulness (mindfulness-based stress reduction).  

Nyanaponika (1972) mendefinisikan mindful sebagai kesadaran jernih dan tunggal akan apa yang terjadi pada dan di dalam diri pada momen-momen persepsi berkelanjutan. 

Kabat-Zinn (1990/2005) mendefinisikan mindfulness sebagai perhatian yang dilakukan secara sadar, tanpa menilai atau menghakimi, terhadap pengalaman dari satu momen ke momen berikutnya.

Mindful menurut Paññavaro (2016) adalah pengamatan atas pengalaman dan bagaimana pengalaman ini berlangsung tanpa memberi makna, menghakimi, menilai, memberi nama atau label, melibatkan emosi, atau berusaha dengan sesuatu cara mengubah pengalaman ini. 

Ada dua tipe mindfulness: (1) samatha, menggunakan perhatian terfokus pada objek spesifik dan (2) vipassana yang menekankan pengamatan terbuka terhadap persepsi yang berlangsung. 

Dalam perhatian tidak menghakimi, netral, apa adanya, mindfulness mencakup penerimaan, kesabaran, dan toleransi terhadap timbul tenggelam bentuk-bentuk pikiran, perasaan, sensasi yang muncul di dalam kesadaran, atau memerhatikan konten kesadaran, sebagaimana dalam meditasi vipassana atau meditasi pandangan terang (Mellinger dan Lynn, 2012).

Meditator, dalam melakukan praktik meditasi mindfulness, memfokuskan perhatiannya pada objek yang telah ditentukan sebelumnya, misal napas, gerakan perut, suara tertentu, gambaran mental di pikiran, sambil tetap memerhatikan stimuli eksternal (penglihatan, suara, bau, sentuhan, dll) dan internal (misal bentuk pikiran yang muncul, perasaan, dll) rangsangan pada saat bersamaan. 

Inti praktik mindfulness bukan sekadar memusatkan perhatian pada napas, seperti yang diyakini orang awam, melainkan penerimaan dan pelepasan berkelanjutan dari berbagai fenomena seperti suara-suara dari lingkungan, suara atau dialog internal, bentuk-bentuk pikiran atau emosi, dan sensasi fisik.

 

Hipnosis dan Hipnoterapi

Dalam konteks hipnosis dan hipnoterapi, terdapat dua pikiran: pikiran sadar dan pikiran bawah sadar. Fungsi pikiran sadar mengidentifikasi informasi yang masuk melalui enam indera, membandingkan informasi ini dengan data di pikiran bawah sadar, melakukan analisis, dan membuat keputusan. 

Fungsi pikiran bawah sadar adalah tempat menyimpan data atau memori jangka panjang, menyimpan hal-hal yang tidak tertangkap oleh pikiran sadar, tempat tiga jenis kebiasaan, emosi, kepribadian, intuisi, kreativitas, persepsi, keyakinan (belief), dan nilai hidup (value). Pengaruh dan kontribusi pikiran sadar pada diri individu berkisar antara 1% hingga 5%, sementara pikiran bawah sadar antara 95% hingga 99% (Gunawan, 2012). 

Pikiran sadar mampu memproses hingga 40 bit informasi tiap detik (Zimmermann (1989). Sementara menurut Trincker (dalam Norrentranders, 1998:126) pikiran bawah sadar mampu memproses hingga 40.000.000 bit informasi tiap detik. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa perbandingan kapasitas pemrosesan data antara pikiran sadar dan pikiran bawah sadar adalah 40 bit/detik berbanding 40.000.000 bit/detik atau 1 berbanding 1.000.000. 

Seturut dengan keberadaan dua pikiran, terdapat dua logika pikiran: logika pikiran sadar (conscious logic) dan logika pikiran bawah sadar (trance logic). Kedua logika pikiran ini bekerja dengan keunikan dan hukum berbeda. 

Hipnosis adalah kondisi kesadaran bercirikan pikiran sadar fokus dan rileks, berakibat pikiran menjadi sangat reseptif menerima pesan-pesan mental yang disampaikan, baik berupa pesan verbal dan atau visual. Kondisi pikiran sadar rileks ini bisa diikuti, namun tidak selalu, dengan kondisi tubuh fisik rileks (Gunawan, 2018). 

Kondisi hipnosis bisa dicapai atau terjadi melalui beberapa cara: swahipnosis, heterohipnosis, autohipnosis, dan parahipnosis. Swahipnosis adalah hipnosis yang dilakukan seseorang pada dirinya sendiri. Heterohipnosis adalah hipnosis yang dilakukan seseorang pada orang lain, terutama dalam konteks klinis. Autohipnosis adalah hipnosis yang terjadi dengan sendirinya saat individu berada dalam situasi atau kondisi tertentu. Dan parahipnosis adalah hipnosis akibat obat. 

Berbeda dengan pehamahan awam, kondisi hipnosis bukan tidur atau kondisi tak sadar. Dalam kondisi hipnosis, individu tetap sadar sepenuhnya dan memiliki kendali penuh atas dirinya.

Dalam kondisi hipnosis individu melepas kendali atas fungsi kritis pikirannya, lepas dari fungsi pengawasan kekinian pengalaman, dan teregresi ke proses berpikir primer di mana terdapat kebebasan dan keleluasaan pikiran dalam memunculkan berbagai bentuk gambaran mental, daya khayal, menerima segala sesuatu yang sebelumnya tidak rasional menjadi rasional, dan individu mengalami fenomena trance logic (Orne, 1959).

Terdapat banyak lapis kesadaran atau jenjang kedalaman, kondisi hipnosis. Mulai dari kedalaman dangkal (light trace), kedalaman menengah (medium trance), kedalaman dalam (deep trance), hingga kedalaman ekstrim (extreme depth). Setiap kedalaman bercirikan fenomena spesifik baik di aspek mental maupun fisik.

Terdapat lebih dari dua puluh skala kedalaman hipnosis. Skala paling awal adalah Magnetic Scale (Liébeault, 1866, 1889). Sementara skala yang populer digunakan sebagai acuan adalah Stanford Scales of Hypnotic Susceptibility, Forms A and B, Stanford Scales of Hypnotic Susceptibility, Form C, dan Stanford Profile Scales of Hypnotic Susceptibility (Weitzenhoffer dan Hilgard, 1959, 1962, 1963, 1967), dan Harvard Group Scales of Hypnotic Susceptibility, Forms A dan B (Shor dan Orne, 1962). Di tahun 2010, di Indonesia telah disusun AWG Hypnotic Depth Scale yang digunakan sebagai acuan dalam proses hipnoterapi oleh hipnoterapis klinis anggota Asosiasi Hipnoterapi Klinis Indonesia (AHKI).

Hipnosis per se tidak terapeutik, karena ia hanya kondisi kesadaran. Manfaat yang bisa dirasakan bila seseorang mengalami kondisi hipnosis adalah terjadinya relaksasi pikiran sadar dan tubuh fisik. Ini menghasilkan respon relaksasi yang berdampak baik untuk ketenangan dan kesehatan. Namun, bila tujuan yang ingin dicapai adalah kebaikan dan kesejahteraan mental pada tataran lebih luas, hipnosis perlu disandingkan dengan seperangkat teknik atau strategi terapi. Gabungan antara kondisi hipnosis dan teknik terapi dinamakan hipnoterapi.

Secara ringkas, hipnoterapi adalah terapi, bisa menggunakan teknik apa saja, dilakukan dalam kondisi hipnosis. Terapi bisa dilakukan baik oleh diri sendiri, atau oleh terapis pada klien dengan tujuan mengatasi masalah dan meningkatkan kesejahteraan klien.

Terdapat tiga mazhab hipnoterapi. Pertama, mazhab pantai timur Amerika yang hanya mengutamakan dan menggunakan sugesti sebagai sarana untuk mencapai perubahan. Kedua, mazhab pantai barat Amerika, mengutamakan hipnoanalisis bertujuan mencari, menemukan, dan memroses tuntas akar masalah. Dan ketiga, mazhab eklektik-integratif, dikembangkan oleh AWGI, bercirikan pemanfaatan, integrasi teknik serta pendekatan terapi terkini dan terbaik, bertujuan mencari, menemukan, dan memroses tuntas akar masalah dalam upaya membantu individu mengalami perubahan positif dengan aman, efektif, cepat, mudah, menyenangkan, dengan hasil terapi bertahan lama.

Proses perubahan transformatif dan dampak terapeutik positif terjadi saat terapis berhasil membantu klien mencapai pengalaman emosional korektif (Alexander dan French, 1946) melalui rekonstruksi memori patologis (Watkins, 1978).

(Bangun) memori hanya bisa direkonstruksi bila ia telah lentur setelah beberapa prasyarat terpenuhi, terutama setelah terjadi peluruhan emosi dan pemanfaatan trance logic. Tanpanya, bangun memori akan tetap kokoh, rigid, dan tidak bisa direkonstruksi untuk kebaikan dan kesembuhan klien (Gunawan, 2018).

Upaya pemulihan kesejahteraan mental dan emosi klien pascakejadian traumatik dilakukan dengan menggunakan teknik khusus, di kedalaman hipnosis dalam (profound somnambulism) tanpa mengganggu integritas memori (traumatik).

Dibutuhkan pemahaman mendalam tentang landasan teori dan cara kerja memori agar bisa melakukan rekayasa dan rekonstruksi memori patologis secara aman dan tepat sasaran. Tanpa pemahaman benar hipnoterapis bisa salah dalam melakukan atau justru menolak melakukan rekonstruksi memori.

 

Kesadaran

Kesadaran (consciousness) memiliki lima komponen: kondisi kesadaran (state of consciousness), isi kesadaran (content of consciousness), kesadaran (awareness), energi, dan struktur.

Kesadaran (consciousness) dibedakan menjadi dua kelompok: kesadaran normal (baseline state of consciousness) dan kesadaran berbeda (discrete state of consciousness). Kesadaran normal adalah kesadaran yang dialami individu dalam kondisi bangun, sadar normal. Sementara kesadaran berbeda adalah semua kondisi kesadaran di luar kelompok kesadaran normal. Kesadaran berbeda sering disebut sebagai altered state of consciousness (ASC). Kondisi meditatif dan kondisi hipnosis adalah kondisi kesadaran berbeda.

Menurut Tart (1975) kondisi kesadaran distabilkan oleh empat proses: loading stabilization (stabilisasi beban), negative feedback stabilization (stabilisasi umpan balik negatif), positive feedback stabilization (stabilisasi umpan balik positif), dan limiting stabilization (stabilisasi penghambat).

Isi kesadaran (content of consciousness) adalah muatan yang keluar dari pikiran bawah sadar dan atau nirsadar, naik ke permukaan dan masuk ke wilayah pikiran sadar sehingga dikenali dan diketahui. Setiap kondisi kesadaran merupakan jalur bagi pikiran bawah sadar dan atau nirsadar untuk mengeluarkan muatannya sesuai dengan kondisi psikis, kebutuhan, kesiapan, dan izin dari sistem ego.

Kesadaran (awareness) adalah kemampuan untuk mengetahui atau mengenali atau memikirkan bahwa sesuatu sedang terjadi. Sedangkan kesadaran diri (self awareness) adalah kesadaran akan kondisi sadar. Tingkat kesadaran diri yang tertinggi adalah saat terjadinya perpisahan antara kesadaran dan konten.

Kesadaran (awareness)merujuk pada pengetahuan dasar bahwa sesuatu sedang terjadi, mengamati, atau merasakan. Kesadaran (consciousness)umumnya merujuk pada awareness dalam hal yang jauh lebih rumit. Consciousness adalah awareness yang dipengaruhi oleh struktur pikiran.

Energi dalam hal ini merujuk pada perhatian atau kesadaran (awareness) dalam konteks bahwa suatu struktur yang sebelumnya tidak berpengaruh terhadap kesadaran dapat diaktifkan bila dibutuhkan.

Sementara yang dimaksud dengan struktur, lebih tepatnya struktur psikologis, adalah organisasi yang relatif stabil dari komponen yang menjalankan satu atau lebih fungsi psikologis tertentu. Beberapa struktur membutuhkan energi dalam jumlah tertentu agar dapat bekerja optimal, beroperasi, dihambat kerjanya, diubah, dan atau didestrukturisasi (Tart, 2001).

Bila ditilik dari kesadaran individu saat melakukan meditasi dan dalam kondisi hipnosis, terdapat kemiripan dan perbedaan. Walau individu yang melakukan meditasi maupun yang sedang mengalami kondisi hipnosis tampak sama tenang dan pasif, aktivitas kesadaran mereka sangat berbeda. 

Terdapat dua aspek kesadaran dalam konteks mindfulness: perhatian (attention) dan kesadaran (awareness). Perhatian (attention) adalah proses pemusatan kesadaran, memberikan kepekaan yang tinggi pada rentang pengalaman terbatas (Westen, 1999). Kesadaran (awareness) berfungsi sebagai radar bagi kesadaran (consciousness), yang secara kontinu memonitor lingkungan di luar dan di dalam diri individu (Brown & Ryan, 2003). Kesadaran dan perhatian saling terhubung. Perhatian terus-menerus menarik "sosok" keluar dari "tanah" kesadaran, menahan mereka secara fokus untuk jangka waktu yang berbeda-beda. 

Hal ini memungkinkan individu untuk dapat menyadari suatu stimulus tanpa harus meletakkan stimulus tersebut sebagai pusat perhatian. Misalnya, ketika seseorang sedang berbincang-bincang, namun tetap menyadari apa yang terjadi di lingkungannya. Sementara attention diartikan sebagai suatu proses memfokuskan kesadaran yang disadari (focusing conscious awareness) dengan cara meningkatkan kepekaan terhadap lingkup pengalaman-pengalaman yang terbatas. 

Dari dua tipe meditasi, samatha, mengembangkan kondisi tercerap, adalah praktik mindfulness yang memiliki kemiripan dengan kondisi hipnosis. Samatha, bila dilatih secara konsisten, menuntun pada kondisi konsentrasi terpusat yang dikenal sebagai samadhi atau tercerap sepenuhnya pada objek. 

Dalam meditasi samatha, pikiran sadar meditator tercerap, fokus, dan terkunci pada objek seperti napas. Sementara dalam hipnosis, pikiran sadar individu fokus pada suara, tuntunan terapis, sensasi fisik, dan pengalaman yang diungkap pikiran bawah sadar.  

Walau terdapat kesamaan, mindfulness dan hipnosis berbeda dalam mekanisme kognitif dan neurofisiologis tertentu. Hipnosis dapat menimbulkan atau meningkatkan disosiasi (mis: amnesia, depersonalisasi, kehilangan sensorik, dll.), bersama dengan pundarnya orientasi realitas umum (generalized reality orientation / GRO) (Shor, 1959). 

GRO adalah kerangka referensi internal yang stabil, berfungsi mengarahkan seseorang untuk dapat bernavigasi dengan baik dan terarah, dalam ruang dan waktu, bahkan saat ia tidak secara khusus dan saksama memerhatikan keadaan sekelilingnya (Shor,1959). 

Sementara menurut Bruner (1973) GRO adalah skema kognitif yang bekerja atau aktif di latar belakang kesadaran yang memungkinkan seseorang untuk pergi “melampaui informasi yang diperoleh” pada setiap momen untuk mempertahankan orientasinya terhadap realita. 

GRO adalah fungsi pikiran yang mengawasi keadaan sekeliling. GRO tidak bekerja saat individu tidur. Dalam hipnosis, tingkat keaktifan GRO bergantung pada kedalaman hipnosis yang berhasil dicapai. Semakin dalam kondisi hipnosis, fungsi GRO semakin pudar. 

Dalam praktik mindfulness, khususnya vipassana, praktisi tetap sadar akan pengalaman eksternal dan internal. Bentuk-bentuk pikiran yang mengganggu dan sensasi sakit dikenali namun tidak diberi perhatian, bukan "terputus" seperti dalam disosiasi hipnotik. Perbedaan ini telah terkonfirmasi secara empiris (Lau et al., 2006). 

Ciri-ciri kognitif dan fenomenologis yang unik untuk mindfulness dan hipnosis mengindikasikan mekanisme neurofisiologis spesifik yang mendasarinya. Keduanya sangat berbeda dalam konektivitas fungsional di otak. 

Dalam hipnosis, fungsi pemantauan terputus dari fungsi eksekutif (Egner, Jamieson, & Gruzelier, 2005). Proses ini yang diperkirakan mengakibatkan terjadinya penghentian sementara dari fungsi penilai kritis terhadap realita, dalam hal ini GRO, dan memungkinkan sugesti hipnotik dan rekonstruksi memori dapat terjadi. 

Pada kondisi hipnosis dalam, walau fungsi GRO dan analitis logis menurun atau sangat berkurang, individu tetap dalam kondisi sadar penuh sehingga masih dapat mengendalikan diri sepenuhnya. Ia dapat memutuskan keluar dari kondisi hipnosis seturut keinginannya, kapan pun. 

Dalam mindfulness (vipassana), yang terjadi adalah pola sebaliknya. Fungsi pemantauan dan fungsi eksekutif tetap aktif dan terhubung satu dengan lainnya, yang mengakibatkan kesadaran praktisinya meningkat, tidak mengalami penurunan seperti dalam kondisi hipnosis (Lynn, Malaktaris, Maxwell, Mellinger, & van der Kloet, 2012). 

Mencermati temuan ini, beberapa ilmuwan neurosains menegaskan bahwa pernyataan Buddha tentang "tercerahkan sepenuhnya" pada saat pencerahan bukan sekadar metafora (Britton, Lindahl, Cahn, Davis, & Goldman, 2014). 

Keterhubungan antara fungsi pemantauan, fungsi eksekutif, dan konektivitas otak yang mengalami peningkatan mengatur emosi dan perenungan mendalam yang dilakukan praktisinya (Brewer et al., 2011). 

Secara ringkas dapat dikatakan bahwa mindfulness adalah serangkaian prosedur kognitif yang beragam memfasilitasi perhatian terpusat (samatha) atau pengawasan terbuka tanpa menghakimi (vipassana). Samatha menyerupai hipnosis dengan peningkatan dalam konsentrasi dan pencerapan. Sementara vipassana berbeda dengan hipnosis karena ia meningkatkan, tidak meredupkan kesadaran. 

 

Terapi Berbasis Mindfulness

Mindfulness dapat digunakan baik secara mandiri atau diintegrasikan ke dalam teknik atau pendekatan terapi untuk tujuan meningkatkan kesejahteraan mental dan emosi.

Saat ini telah dikembangkan pendekatan terapeutik berbasis mindfulness seperti mindfulness based stress reduction (MBSR; Kabat-Zinn, 1990) dan mindfulness-based cognitive therapy (MBCT; Segal, Williams, dan Teasdale, 2002) merujuk pada tradisi mindfulness Buddhis sebagai sumber utama dan inspirasi.

Keefektifan dan manfaat mindfulness dalam konteks klinis terletak pada kemampuan kesadaran memutus response set yang mengendalikan diri individu. Response set adalah pola asosiasi terkondisi yang memfasilitasi pola perilaku, pola pikir, dan respon individu terhadap stimulus atau situasi tertentu. Response set dapat diaktifkan baik oleh stimuli internal maupun eksternal, seperti sugesti dan beragam sinyal yang berasal dari lingkungan.

Mindfulness dapat memutus respon perilaku otomatis yang selama ini menguasai diri seseorang, baik disadari atau tidak, dan membuat individu menjadi sadar akan pola perilaku maladaptif yang ia alami atau lakukan.

Pelatihan mindfulness pada klien akan memampukan klien menyadari dan menangkap pola perilaku yang relatif otomatis dan reaktif menjadi respon yang lebih terkendali (Teasdale, Segal, dan Williams, 2003).

Individu terlatih dalam mindfulness mampu menyadari keberadaan pengalaman atau memori, baik bermuatan emosi negatif maupun emosi positif intens, melihat apa adanya pengalaman ini, tanpa menghakimi, berupaya mengubah, memberi makna, atau masuk ke dalamnya. Melalui pengalaman meditatif, individu tidak hanya mampu menyadari keberadaan fenomena, ia juga menyadari bahwa fenomena-fenomena ini bersifat tidak kekal.

Saat fenomena berupa memori, bentuk pikiran, atau perasaan muncul ke permukaan, sejalan dengan hukum ketidakkekalan, setelah bertahan beberapa saat mereka akan padam dengan sendirinya. Muncul, bertahan, dan padamnya fenomena ini terjadi tidak hanya sekali tapi berulang kali. Setiap kali individu berhasil (hanya) menyadari keberadaan fenomena ini, saat mereka muncul, bertahan sesaat, dan padam, tanpa ia bereaksi atau larut ke dalamnya, setiap kali ini pula terjadi peluruhan emosi dan daya cengkeram fenomena terhadap diri individu, hingga akhirnya response set menjadi nonaktif, dan individu terbebas dari masalah.  

Dengan mindfulness, kekuatan perhatian (sati), individu mampu senantiasa membawa batinnya ke saat ini, dan memperlambat arus informasi yang masuk melalui enam indera, dan mendeteksi setiap pengalaman yang berhubungan dengan enam indera, mengetahui mana yang baik / buruk, bermanfaat / merugikan dan menggunakan kebijaksanaan untuk menentukan respon.

Baca Selengkapnya

Takut dan Serakah: Dua Emosi Penghambat Sukses

6 Desember 2021

Di salah satu kesempatan minggu lalu saya jumpa dengan sahabat lama yang adalah pakar di bidang properti yang kini juga mendalami dunia keuangan.

Sahabat ini sudah kenyang mengikuti berbagai pelatihan baik yang di dalam negeri maupun di luar negeri. Setelah cerita banyak hal kami akhirnya diskusi tentang dunia pelatihan.

Diskusi ini berawal dari sahabat saya menjelaskan mengenai kondisi kehidupannya saat ini. Sekitar tujuh tahun lalu ia mengalami kejatuhan di bidang finansial yang sangat parah.

Saat itu posisi sahabat saya sudah sangat-sangat bagus. Ia dikenal sebagai agen properti yang sangat berhasil. Suatu hari, ia diajak kerjasama oleh beberapa rekannya untuk mendirikan perusahaan properti.

Tawaran kerjasama seperti ini sudah sangat sering ia dapatkan, mengingat nama besarnya di dunia properti, namun selalu ia tolak. Namun entah mengapa kali ini ia menerimanya. Dan dari sinilah semua bencana ini berawal.

Ternyata rekan-rekan kerjanya bukan orang properti dan tidak sepadan dengan pengetahuan dan kemampuannya. Singkat cerita, karena salah dalam kalkulasi bisnis akhirnya perusahaan ini bangkrut dan menyisakan utang miliaran rupiah.

Saat saya tanya apa yang menjadi alasan ia menerima tawaran kerjasama saat itu, dengan tersenyum bijak sahabat saya menjawab, "Saya sudah mengikuti sangat banyak pelatihan. Bisa dibilang semua pelatihan ini mengajarkan cara mengatasi rasa takut.

Takut sukses, takut gagal, takut ditolak orang, takut tidak mampu, takut akan rasa takut, dan berbagai takut lainnya. Ada banyak cara yang digunakan untuk mengatasi rasa takut.

Salah satunya adalah jalan di atas api. Ada lagi yang menggunakan jalan di atas pecahan kaca. Cara-cara ini memang cukup efektif. Namun satu hal yang belum pernah saya temui di berbagai pelatihan yang telah saya ikuti yaitu cara atau teknik mengatasi keserakahan."

"Lalu apa hubungan hal ini dengan Anda menerima tawaran kerjasama dulu," tanya saya.

"Saya memang telah berhasil mengatasi rasa takut. Namun saat itu saya belum belajar mengatasi keserakahan saya. Jujur saya akui bahwa saya menerima tawaran mereka karena saya serakah. Saya hanya melihat hitungan di atas kertas. Karena serakah saya menjadi mata gelap. Yang ada di pikiran saya hanya untung dan untung. Pak Adi perlu membuat pelatihan khusus untuk mengatasi keserakahan. Ini ada pasarnya lho. Saya bisa jadi marketingnya kalau mau," jawabnya sambil tertawa.

Sahabat saya saat ini sudah pulih kembali kondisi finansialnya. Ia memetik hikmah luar biasa dari pengalaman jatuh bangun yang ia alami. Benar seperti yang ia katakan. Hampir semua pelatihan untuk meraih sukses menitikberatkan pada mengatasi rasa takut. Dari pengalaman saya selama ini mengatasi rasa takut saja belum lengkap. Kita perlu belajar mengatasi rasa serakah.

Mengapa perlu mengatasi keserakahan?

Keberanian yang tidak dilengkapi dengan kebijaksanaan dalam bentuk pengendalian diri tentu akan sangat berbahaya. Kita perlu bijak untuk bisa mengendalikan keserakahan yang merupakan salah satu emosi dasar manusia, selain marah dan takut.

Serakah artinya selalu hendak memiliki lebih dari yang dimiliki, loba, tamak, rakus. Serakah mengandung makna seseorang tidak tahu, tidak mengerti, atau tidak menentukan kondisi atau syarat cukup.

Saat pikiran dikuasai keserakahan maka logika berpikir, kewaspadaan, dan ketajaman analisis menjadi tumpul. Yang tampak di pikiran dan dirasakan di hati hanya untung, untung, dan untung. Tidak lagi ada kemungkinan rugi. Kondisi ini tentu sangat riskan.

Saya jelaskan kepadanya bahwa saya sangat menitikberatkan perasaan cukup dalam mengajar para peserta pelatihan QLT saat menentukan goal. Ini aspek sangat penting yang harus sungguh dimengerti oleh setiap peserta.

Saya sempat sekilas menjelaskan apa yang diajarkan di QLT dan bagaimana saya membimbing para peserta untuk bisa mengatasi keserakahan mereka. Tentu dibutuhkan pemahaman akan cara kerja pikiran, emosi, dan juga teknik yang tepat.

Sahabat saya ini setuju dengan semua paparan saya. Ia juga menceritakan bahwa dengan bekal hikmah dari pengalaman pahit sebelumnya saat ini ia sangat berhati-hati dalam menerima tawaran kerjasama dari siapapun. Ia sering mendapat tawaran kerjasama di bidang investasi emas, properti, batu bara, kayu gaharu, dan beragam tawaran lainnya. Kehati-hatian ini, karena ia sudah mampu mengatasi keserakahannya sudah sangat banyak menyelamatkan dirinya. Ia tidak lagi mudah dipengaruhi dengan iming-iming keuntungan menggiurkan.

“Logikanya sederhana. Bila bidang usaha atau apapun itu sungguh sangat menguntungkan, seperti yang diceritakan orang yang menawarkan kerja sama, maka ia tidak akan mencari saya. Kalau benar-benar menguntungkan pasti akan ia kerjakan sendiri. Adalah sifat manusia pada umumnya untuk tidak bersedia berbagi sesuatu yang sangat menguntungkan dirinya. Jadi, bila ada untung besar tapi bersedia dibagi dengan saya maka saya perlu ekstra hati-hati dan cermat dalan memelajari dan mencermati proposalnya,” jelas sahabat saya.

Sahabat saya juga mengatakan bahwa salah satu pelajaran paling mahal yang pernah ia "bayar" dalam hidupnya adalah pelajaran tentang keserakahan. Ia harus "membayar" miliaran rupiah untuk mengerti bahwa sangat penting mengendalikan diri dan menguasai keserakahan. Dan yang lebih disayangkan lagi, menurut sahabat ini, tidak ada orang yang mengajarinya mengenai hal ini. Ia harus belajar sendiri di Universitas Kehidupan dengan membayar uang sekolah yang sangat mahal.

Baca Selengkapnya

Hypnotic Age Progression: Jenis dan Manfaat

28 September 2021

Hypnotic age progression, biasa disingkat age progression, adalah teknik hipnoterapi dilakukan dengan menuntun klien ke masa depan, menyusuri garis waktu kehidupannya, untuk tujuan terapeutik spesifik (Gunawan, 2018). Berbeda dengan hypnotic age regression, age progression jarang dibicarakan atau dibahas di literatur jurnal.

Age progression bervariasi dalam jenis sugesti yang diberikan, dan dapat digunakan untuk mendorong pertumbuhan di berbagai tingkatan, memfasilitasi tujuan terapi dan memperdalam proses penyembuhan.

Dalam age progression, seturut sugesti dan proses yang terjadi, terdapat spektrum, diawali dari sangat tidak terstruktur, relatif tidak terstruktur dan kadang terjadi secara tidak langsung dan spontan, terstruktur moderat, hingga sangat terstruktur (Phillips dan Frederick, 1995).

Banyak istilah digunakan dalam menamakan proses membawa klien ke masa depan untuk tujuan terapeutik: age progression (progresi usia), time projection (proyeksi waktu), pseudo-orientation in time into the future (orientasi semu waktu ke masa depan), end result imagery (gambaran hasil akhir). Penamaaan ini digunakan secara bebas dan merujuk pada proses terapi berorientasi masa depan. Namun sesungguhnya, mereka tidaklah sama (Hammond 1990e, p. 515).

 

Hypnotic Age Progression Terstruktur

Age progression untuk tujuan terapi telah digunakan Hartland (1965, 1971), Gardner (1976), Diamond (1981) dan Stanton (1989) dengan pemberian sugesti berorientasi masa depan pada klien bertujuan menguatkan ego dan sering melibatkan capaian keterampilan atau aktivitas tertentu di level pikiran bawah sadar.

Salah satu teknik age progression adalah mental rehearsal atau gladi resik mental. Dalam teknik ini, terapis mengarahkan klien, secara mental, melakukan langkah-langkah yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan masa depan.

Zilbergeld dan Lazarus (1987) menamakannya sebagai process imagery karena ia meilibatkan proses pencapaian goal melalui visualisasi dan pelatihan langkah demi langkah secara mental.

Gambar mental terstruktur ini sangat berguna dalam upaya meningkatkan kinerja atlit (Unestahl, 1983), artis yang akan tampil (McNeal, 1986), dan individu yang akan menjalani ujian (Zilbergeld dan Lazarus, 1987).

Membayangkan hasil akhir, sebagai cara untuk memacu semangat mencapai tujuan adalah teknik populer dalam dunia pengembangan diri dan motivasi.

End result imagery (gambaran hasil akhir), goal imagery (gambaran tujuan), dan success imagery (gambaran sukses) adalah proses mental dilakukan seseorang dengan membayangkan dirinya di masa depan telah berhasil mencapai tujuan yang diinginkan. Proses ini dilakukan tanpa harus dalam kondisi trance (Hammond, 1990e).

Sementara menurut Gunawan (2019) upaya perubahan atau pemrograman pikiran bawah sadar menggunakan gambaran mental, guna mencapai tujuan spesifik, lebih kuat dan efektif menggunakan sensualisasi, melibatkan segenap indera, tidak hanya indera visual, dan dilakukan dalam kondisi hipnosis atau trance.

 

Hypnotic Age Progression Tidak Terstruktur

Terdapat beberapa teknik terkenal dalam kelompok age progression tidak terstruktur. Pertama adalah model Erickson yang dinamakan pseudo-orientation in time (orientasi semu waktu).

Teknik ini dilakukan dengan meminta subjek penelitian memandang dan fokus pada bola kristal yang diletakkan di depan dan di atas bola mata, hingga subjek masuk kondisi trance. Selanjutnya Erickson menuntun subjek maju ke masa depan guna memperoleh pemahaman akan hal-hal yang perlu dilakukan untuk mencapai tujuan terapeutik (Havens, 1986, p. 258).

Dalam kondisi trance, Erickson meminta subjeknya fokus memandang bola-bola kristal lainnya, di dalam pikirannya, dan di dalam setiap bola kristal ini subjek melihat langkah atau tindakan yang ia lakukan untuk mencapai tujuan.

Erickson mengakhiri sesi terapi dengan melakukan amnesia hipnotik pada subjek dengan tujuan mencegah pikiran sadar subjek mengganggu proses mencapai tujuan yang telah ditanamkan di pikiran bawah sadar.

Menurut Erickson mayoritas orang yang tidak berada dalam kondisi trance (hipnosis) tidak dapat menghasilkan proyeksi akurat hal-hal yang perlu mereka lakukan untuk mencapai tujuan atau tahu tujuan yang dapat mereka capai.

Ia percaya pikiran sadar dapat menghasikan fantasi yang tidak realistik, melakukan evaluasi yang tidak tepat, dan tidak mendukung upaya mencapai tujuan.

Teknik serupa digunakan de Shazer (1978) dalam membantu dua klien yang mengalami disfungsi seksual dengan hasil sangat baik. Havens (1986) juga menggunakan teknik serupa pada klien wanita depresi, menutup diri, dan berhasil membantu kliennya berubah menjadi tenang, merasa aman, asertif, terbuka, dan mudah bergaul.

Solution-Focused Brief Therapy (SFBT), biasa disingkat Solution-Focused Therapy (SFT), dikembangkan oleh Steve de Shazer dan Insoo Kim Berg, menekankan pada proyeksi diri ke masa depan dan miracle question (de Shazer, 1985; O’Hanlon dan Wiener-Davis, 1989) berhubungan dengan konsep Erikson tentang orientasi semu dalam waktu (pseudo-orientation in time).  

Teknik kedua dalam kelompok age progression tidak terstruktur adalah model Dolan dan Torem yang dinamakan Back from The Future atau kembali dari masa depan.

Dalam teknik ini, kilen dituntun jumpa dirinya di masa depan yang sehat, berusia lebih tua, dan diharapkan lebih bijaksana. Klien bertanya pada diri masa depan ini pertanyaan terkait kondisi atau masalah yang hendak diatasi, dan diharapkan diri masa depan memberi nasihat, jawaban, saran atau masukan yang perlu klien lakukan. Komunikasi antara klien dan diri masa depannya dilakukan dengan surat (Dolan, 1991).

Torem (1992) mengembangkan age progression versinya sendiri yang sangat terstruktur. Proses ini didahului tahap persiapan yang dilakukan secara matang, membutuhkan kondisi trance, dan fasilitasi terjadinya vivifikasi untuk hasil terapeutik optimal.

Proses ini dikuatkan dengan sugesti pemberdayaan ego yang mengutamakan pikiran dan perasaan positif, dan rasa bangga berhasil mencapai solusi dari masalah. Juga dikuatkan lebih lanjut dengan sugesti sehat, kuat, prestasi, rasa mampu dan kreatifitas dalam menghadapi masalah dan tekanan hidup (Hartland, 1965, 1971; Torem, 1990).

Teknik ketiga dalam kelompok age progression tidak terstruktur adalah model Napier, The Future Self - diri masa depan. Napier (1990) memandang diri sebagai sistem kompleks meliputi bagian-bagian diri yang memegang sumber daya, termasuk di dalamnya adalah bagian diri sangat cakap dan bermanfaat yang berasal dari masa depan.

Napier dipengaruhi oleh pemikiran Erickson. Ia menggunakan skrip proyektif / evokatif yag memungkinkan klien merespon menggunakan materi mereka sendiri.

Satu hal penting perlu diperhatikan bila menggunakan skrip Napier yaitu ia mengaktifkan inner child. Aktivasi inner child pada klien yang mengalami kondisi disosiatif dapat mengakibatkan aktifnya bagian diri yang mengalami trauma dan tidak mampu turut serta dalam proses terapi.

Napier (1990) menekankan esensi dan kualitas impresi yang terjadi selama proses terapi adalah jauh lebih penting daripada penekanan berlebih pada keutuhan dan akurasi gambaran yang muncul saat trance.

Aplikasi age progression selain bersifat terapeutik, juga dapat digunakan untuk tujuan prognosis klinis. Apabila klien tidak dapat memunculkan proyeksi atau melihat dirinya di masa depan telah berhasil mengatasi masalah, ini adalah indikasi kuat keberadaan masalah lain, besar kemungkinan bersifat lebih serius, perlu penanganan segera, cermat dan hati-hati (Phillips, 1992; Rossi dan Cheek, 1988; Gunawan, 2005).

Bila klien saat dituntun mengalami age progression positif, dan yang terjadi justru sebaliknya, age progression negatif, di mana klien melihat atau mengalami dirinya di masa depan dalam kondisi tidak baik, ini adalah pesan penting dari pikiran bawah sadar klien bahwa terdapat sesuatu hal lain yang menghalangi klien.

  

Hypnotic Age Progression : Perspektif Ego Personality

Dari perspektif teori ego personality (EP), sistem ego dikatakan dalam kondisi integratif bila masing-masing komponen ego bekerja sama secara harmonis dan saling berbagi informasi dan kesadaran. Para EP ini, secara agregat, memegang totalitas emosi dan impuls kepribadian individu.

Saat seseorang sedang bermasalah, sejatinya terdapat satu EP spesifik yang bermasalah dan aktif mengendalikan dan menjalankan diri klien. EP ini menjadi dominan dan tidak berbagi kesempatan dengan EP lain untuk menjalankan dan menjadi diri klien.

Semakin berat atau intens suatu masalah, semakin aktif dan dominan EP bermasalah. EP lainnya berada di latar belakang, tidak aktif di permukaan. Dengan demikian, individu mengalami kendala melihat kemungkinan resolusi masalah di masa depan.

Age progression positif dilakukan dengan tujuan mengaktifkan EP lain yang lebih positif, tidak bermasalah, dan memegang sumber daya diri yang lebih kuat. Dengan bantuan EP ini, individu dapat melihat dirinya di masa depan berhasil mengatasi masalahnya.

Mengingat sifat dan cara kerja sistem ego, pengalaman resolusi masalah yang ditampilkan dan dialami klien, berkat aktivasi EP positif, juga dapat dilketahui dan dirasakan EP bermasalah.

Ini adalah bentuk edukasi tidak langsung pada EP bermasalah bahwa sesungguhnya terdapat sumber daya dalam diri yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah.

Namun, bila EP bermasalah ini sangat kuat, ia tidak akan berbagi kesempatan dan menghambat EP lain untuk turut serta dalam proses pemulihan klien. Klien tidak dapat memunculkan gambaran mental resolusi masalah telah terjadi di masa depan, atau bahkan terjadi age progression negatif.

Dampak terapeutik pemberdayaan diri berbasis age progression terletak pada kemampuan teknik ini memberi rasa aman internal, dengan memungkinkan klien bersentuhan dengan sumber daya internalnya dengan cepat.

Baca Selengkapnya

Akar Masalah Berasal dari "Roh" Ibu

10 September 2021

Saya menyelenggarakan pelatihan trading Quantum Life Transformation for Financial Freedom® (QLTFF) berdurasi tiga hari. Di hari pertama, secara khusus saya mengajari para peserta untuk mengenali mental block yang menghambat mereka mencapai sukses finansial dengan mudah. 

Banyak peserta yang semula merasa dirinya baik-baik saja, setelah dituntun untuk menyelami pikiran bawah sadar (PBS) mereka, berhasil menemukan mental block penghambat sukses finansial yang selama ini bekerja sangat halus dan cukup sulit dikenali atau diidentifikasi. 

Mental block ini muncul dalam berbagai varian. Ada yang bentuknya suara dalam diri yang terus mengeluarkan ujaran negatif, merendahkan diri. Ada yang muncul dalam bentuk perasaan diri tidak berharga, tidak penting, bukan siapa-siapa. Ada lagi yang merasa tidak layak untuk dapat uang dengan cara mudah atau tidak bisa melihat angka (penghasilan) besar, merasa tidak layak untuk mendapatkan yang terbaik. 

Mental block ini memiliki energi dan tersimpan di bagian tubuh tertentu. Bahkan, ada yang merasa energi mental block ini mengisi seluruh dirinya. 

Dari mana asal mental block ini? Mental block sejatinya program pikiran atau sugesti yang masuk, lebih tepatnya dimasukkan, ke pikiran bawah sadar (PBS) kita saat proses tumbuh-kembang, terutama sejak usia 0 hingga 10 tahun pertama kehidupan kita, dan bersumber dari figur otoritas seperti orang tua atau guru. 

Setelah sugesti ini masuk ke PBS, melalui proses penguatan dan biasanya diimbuhi emosi-emosi negatif intens, ia menjadi program pikiran sangat kuat. Selanjutnya program pikiran ini bekerja di bawah sadar dan mengendalian diri individu. 

Salah satu peserta, sebut saja sebagai Indah, usai sesi swaterapi yang saya tuntun, bercerita bahwa selama ini ia tidak pernah bisa bermimpi besar. Ia tidak bisa melihat dirinya punya penghasilan (sangat) besar. Ia sudah berusaha mengatasi hambatan ini dengan berbagai upaya. 

Ia merasa telah berhasil mengatasi mental block ini. Namun di sesi swaterapi ini saya minta semua peserta untuk dengan sungguh-sungguh mengikuti tuntuntan saya dan melakukan terapi pada diri mereka sendiri. 

Apa yang terjadi? Ternyata, di tahap akhir proses swaterapi, saat proses menetralisir hambatan yang mengakibatkan Indah tidak bisa bermimpi besar, tiba-tiba muncul wajah ibunya. Ibu Indah telah meninggal. 

Ibu yang Indah "lihat" adalah sosok berusia sekitar 45 tahun. Indah bisa merasakan ada emosi "tidak berani bermimpi besar" keluar dari tubuh Ibunya dan lepas dari diri Indah melalui hati Indah. Setelahnya Indah merasa kelegaan luar biasa. 

Dari perspektif ilmu pikiran, apa yang sesungguhnya terjadi?

Ibu yang Indah "lihat" adalah introjek, bukan roh orang yang telah meninggal. Introjek adalah persepsi tentang seseorang yang penting atau yang punya ikatan emosi dengan diri kita dan mewujud dalam bentuk sosok di pikiran bawah sadar. 

Sosok ini menjalankan dua peran, sebagai introjek dan identofak. Bila sebagai introjek, ia tidak begitu berpengaruh pada individu. Masalah muncul bila sosok ini mengambil peran sebagai identofak. Sebagai identofak, ia aktif menempati, menguasai, dan mengendalikan tubuh / diri individu. 

Saat identofak aktif, individu berucap dengan nada atau suara identofak. Individu berperilaku sebagai sosok orang lain, introjek. Yang tidak mengerti tentang hal ini berpikir individu mengalami kerasukan. 

Introjek bisa tinggal di dalam diri individu, di bagian tubuh tertentu, atau di luar tubuh individu namun masih di dalam lingkup medan energi pikirannya. 

Indah merasakan kelegaan luar biasa setelah emosi atau blocking yang berasal dari ibunya berhasil ia netralisir. Dan setelahnya, Indah berani bermimpi besar. Ia kini fokus membangun penghasilan pasif dari trading menggunakan protokol QLTFF. 

Demikianlah adanya...

Demikianlah kenyatannya...

Baca Selengkapnya

Hipnoterapi untuk Penyembuhan Luka Bakar

26 Juli 2021

Saat seseorang mengalami luka bakar, ada dua proses berbeda yang terjadi padanya. Pertama, kulit yang mengalami luka bakar menjadi rusak karena panas. Ini terjadi dalam sekejap. Selanjutnya muncul respon inflamasi yang mengakibatkan wilayah terdampak menjadi bengkak, meradang, dan terasa sakit. Reaksi ini butuh waktu antara dua hingga empat jam untuk mencapai efek penuh.


Jeda waktu ini yang dimanfaatkan oleh Dr. Dabney Ewin dari Tulane University di New Orleans, yang juga adalah hipnoterapis, membantu pasien yang mengalami luka bakar. Dr. Ewin menggunakan hipnoterapi bukan sebagai upaya terakhir, namun sebagai upaya pertama, dalam membantu pasien luka bakar di instalasi gawat darurat penanganan luka bakar di rumah sakit.


Dalam satu kesempatan wawancara di tahun 1980, untuk BBC TV (https://www.youtube.com/watch?v=u34HoFVxSNc), Dr. Ewin menyatakan bahwa bila pasien dapat ditangani dalam waktu dua jam pertama sejak luka bakar terjadi, sebelum respon inflamasi bekerja, maka respon ini dapat dihentikan, karena dengan hipnoterapi, pasien dapat dibuat seolah tidak mengalami luka bakar.


Dr. Ewin menunjukkan bukti dengan menunjukkan foto luka bakar, 3.000 derajat Celcius, yang terjadi pada lengan pasiennya, akibat ledakan gas karbid (asetilen).


Dalam waktu satu jam setelah kejadian, pasien ini jumpa Dr. Ewin di rumah sakit, dihipnoterapi, luka bakarnya dibalut, dan ia dapat langsung kembali bekerja. Keesokah harinya, kulit pasien ini masih tetap gosong, namun tidak ada pembengkakan, tidak ada infeksi, dan sama sekali tidak ada rasa sakit. Lengan pasien ini sembuh total hanya dalam waktu dua belas hari.


Di tahun 1983 Dr. Ewin menulis artikel "Emergency Room Hypnosis for the Burned Patient" menjelaskan aplikasi hipnosis / hipnoterapi untuk penanganan luka bakar dan dipublikasi di American Journal of Clinical Hypnosis.


Saya cukup beruntung karena punya buku menjelaskan teknik yang dilakukan oleh Dr. Ewin. Dan saya juga punya video penanganan luka bakar dengan hipnoterapi, salah satunya menampilkan Dr. Ewin, yang biasa saya tunjukkan di kelas SECH.

Baca Selengkapnya

Hipnoterapi Model Baru: Sebuah Keniscayaan

3 Juni 2021

Ide-ide baru selayaknya diperlakukan sebagai hipotesis, diuji dengan eksperimen, dan direvisi seturut hasilnya. Ide-ide baru tidak dapat diabaikan sampai mereka diuji dan ditemukan hasilnya, positif atau negatif. Ini adalah prinsip yang saya pegang teguh dalam proses belajar.

Di masa awal saya belajar hipnoterapi, tahun 2005, saya banyak memelajari dan menelaah pemikiran para pakar hipnoterapi melalui buku dan DVD karya mereka. Melalui penelusuran intensif literatur saya menemukan banyak informasi penting terkait proses hipnosis dan hipnoterapi.

Mereka semua sepakat dan menyatakan bahwa proses hipnoterapi adalah terapi yang dilakukan dalam kondisi hipnosis, baik yang dicapai melalui induksi formal maupun non formal. Di ruang praktik, hipnoterapi adalah terapi yang dilakukan oleh hipnoterapis pada klien, dalam kesetaraan relasi dan kerjasama, guna mencapai tujuan terapeutik yang telah disepakati.

Dalam konteks ini, terapis menggunakan pengetahuan, pengalaman, dan kompetensi terapeutiknya membantu klien mengatasi masalah. Dan klien sepenuhnya percaya dan mengikuti bimbingan terapis. Terapi dilakukan dan berlangsung setelah klien menjalani induksi hipnotik.

Dari semua pemikiran para pakar yang pernah saya pelajari, satu nama sangat menonjol dan menarik perhatian saya, Ormond McGill, yang dijuluki sebagai The Dean of American Hypnotists.

McGill pernah ke India dan memelajari hipnosis timur. Ia menulis banyak buku, salah satunya berjudul Hypnotism and Mysticism of India (1979). McGill menyatakan bahwa proses hipnosis atau hipnoterapi diawali dan telah berakhir di pikiran hipnoterapis sebelum terapi formal dilakukan.

Dengan bahasa yang lebih lugas, McGill menyatakan bahwa untuk terapi yang efektif, hipnoterapis harus yakin sepenuhnya dan mampu melihat, di dalam pikirannya, hasil akhir yang hendak dicapai. Setelahnya, barulah dilakukan proses hipnosis atau hipnoterapi.

Pemikiran ini agak di luar pemikiran arus utama dan sangat menarik perhatian saya. Namun karena keterbatasan pengetahuan dan pengalaman saya saat itu, saya belum secara serius menelisik lebih jauh. Informasi ini saya simpan sebagai bahan pembelajaran penting yang akan saya kembangkan lebih lanjut.

Berikutnya saya membaca proses terapi yang dilakukan David R. Hawkins (1995), dalam buku Power vs Force. Dijelaskan dalam buku ini, Hawkins mampu menyembuhkan klien-kliennya hanya melalui komunikasi dengan pikiran bawah sadar (PBS) kliennya, mengirim energi cinta kasih dan pesan ke PBS klien yang mengalami kondisi cukup berat seperti katatonik mutisme, dan kliennya sembuh.

Apa yang dilakukan Hawkins sangat sejalan dengan pesan yang disampaikan guru saya, Anna Wise, saat saya belajar dengan beliau di Berkeley tahun 2009, terkait proses penyembuhan.

Komunikasi nonverbal, langsung dari pikiran satu individu ke pikiran individu lainnya, selain pernah dilakukan oleh Anna Wise, juga pernah saya baca dilakukan oleh Prof. Valerie Hunt (1996) dalam bukunya yang sangat bagus, The Infinite Mind. Bentuk komunikasi nonverbal ini sangat berpengaruh pada klien yang akan dibantu melalui proses terapi. Diceritakan dalam buku ini, Prof. Hunt mampu berkomunikasi dengan PBS pasien yang berada dalam kondisi koma melalui komunikasi nonverbal, langsung dari pikiran ke pikiran.

Dalam literatur lain saya membaca bahwa di tahun 1847 dokter bedah asal Skotlandia, James Esdaile, membuat laporan tertulis menjelaskan tentang praktik mesmerisme yang ia lakukan di India. Esdaile melakukan lebih dari 315 operasi besar, termasuk 19 amputasi tungkai, dan beberapa ribu operasi kecil, tanpa obat bius, karena saat itu memang belum ada obat bius.

Esdaile melakukan mesmerisme, sebutan untuk hipnosis di zaman itu, yang ia kembangkan dan berhasil menuntun pasien-pasiennya masuk ke kondisi di mana terjadi anestesi spontan di seluruh tubuh mereka.

Ini ia lakukan tanpa menggunakan sugesti verbal atau kontak mata, dan sering dilakukan dengan mata pasien tertutup. Yang dilakukan adalah melakukan “hand-pass” di sekujur tubuh pasien untuk waktu tertentu hingga pasiennya masuk ke kondisi hipnosis ekstrim, yang kini dikenal dengan kondisi Esdaile.

Esdaile menegaskan bahwa tekniknya tidak sekadar melibatkan daya imajinasi, namun lebih dari itu. Menurut Esdaile, berdasar pengamatannya, mesmerisme (baca: hipnosis) yang ia praktikkan melibatkan daya fisik yang dikeluarkan oleh satu individu kepada individu lain, dalam keadaan dan kondisi tertentu dari sistem masing-masing.

Kisah penting berikutnya, ditulis dalam British Medical Journal (1952), adalah penyembuhan sakit fisik yang dilakukan Dr. Albert A. Mason pada pasien yang menderita sakit kulit parah. Orang awam menyebutnya sebagai sakit “kulit ikan”, di mana terjadi penebalan kulit di sekujur tubuh. Kulit menjadi sangat kaku dan bila bagian tubuh ditekuk, kulit pecah dan keluar darah.

Dr. Mason berpikir ini adalah semacam kutil (warts). Dan ia sudah cukup sering menyembuhkan kutil menggunakan hipnosis. Ia melakukan hipnosis pada pasien ini di bulan Februari 1951 dan memberi sugesti ke pikiran bawah sadar pasiennya untuk menanggalkan seluruh kutil di lengan kiri.

Seminggu kemudian, pasiennya kembali jumpa Dr. Mason. Dan seturut sugesti yang diberikan, lapisan kulit tebal di lengan kiri tanggal dan kulitnya kembali normal. Sementara kulit di lengan kanan dan wilayah tubuh pasien lainnya sama sekali tidak berubah.

Sejawat Dr. Mason kaget dengan kesembuhan pasien ini dan mengatakan bahwa sakit kulit yang diderita pasien ini adalah congenital ichthyosiform erythroderma, bawaan sejak lahir, bersifat struktural dan organik, dan harusnya tidak bisa disembuhkan.

Walau Dr. Mason sukses menyembuhkan lengan kiri pasiennya dengan hipnosis, setelah ia membaca dan memelajari literatur tentang congenital ichthyosiform erythroderma ia percaya bahwa kondisi ini tidak bisa disembuhkan.

Informasi yang dibaca Dr. Mason tentang sakit kulit yang diderita pasiennya, bahwa ini tidak bisa disembuhkan, mengakibatkan kepercayaannya luruh, walau bukti menunjukkan ia mampu menyembuhkan lengan kiri pasiennya.

Dr. Mason masih mencoba melakukan terapi lanjutan pada pasiennya dan sama sekali tidak ada hasilnya. Ia juga melakukan terapi pada delapan pasien lain, yang menderita congenital ichthyosiform erythroderma dan semuanya gagal (BMJ, 1961).

Pemikiran penting tentang pikiran disampaikan Dr. Howard B. Miller di konvensi The American Society of Clinical Hypnosis (ASCH) di San Francusco, November 1969. Menurut Miller, pikiran adalah sumber energi, entitas daya yang menggunakan tubuh dan otak kita. Dan cara paing mudah untuk mengubah proses berpikir adalah dengan hipnosis.

Komunikasi antara individu tidak hanya dilakukan menggunakan jalur komunikasi verbal namun juga bisa melalui telepati. Andrija Puharich, MD., melakuan eksperimen di laboratorium untuk menguji teori dan mekanisme telepati.

Puharich (1962) menjelaskan, dalam Beyond Telepathy, dibutuhkan kondisi mental khusus untuk bisa melakukan telepati, mengirim dan menerima bentuk pikiran dari satu individu ke individu lainnya.

Puharich menamakan kondisi mental “pengirim” sebagai andrenergia dan kondisi mental “penerima” sebagai cholinergia. Andrenergia adalah kondisi mental bercirikan pikiran fokus, didorong oleh perasaan terdesak, atau keinginan kuat untuk mewujudkan sesuatu. Sementara cholinergia adalah kondisi mental rileks, sama seperti kondisi hipnosis dalam atau trance. Hasil eksperimen Puharich memvalidasi teori dan teknik telepati yang digagasnya.

Dr. Robert A. McConnell, fisikawan dari University of Pittsburgh dan mantan presiden Parapsychological Assocaition, di tahun 1979 menulis paper penting berjudul Hypnosis as Psychokinesis. Paper McConnell fokus pada karya peneliti paling sukses dan berpengaruh dari semua peneliti psi Rusia, Leonid L. Visiliev (1891-1966).

Hasil eksperimen Visiliev menunjukkan bahwa bentuk pikiran dapat dikirim dari satu individu ke individu lain, dalam bentuk perintah menggerakkan bagian tubuh tertentu, dan perintah ini benar dilaksanakan oleh si penerima, walau terdapat jarak di antara pengirim dan penerima.

Keterhubungan nonfisik, pada level vibrasi, antara terapis dan klien, yang dibuktikan dengan pengukuran menggunakan instrumen tervalidasi saya temukan di buku The Awakened Mind.

Dalam buku ini dijelaskan tentang hasil pengukuran gelombang otak yang dilakukan Maxwell Cade (1979) pada dua orang, satu terapis dan satu lagi klien. Di tahap awal, pola gelombang otak terapis dan klien sangat berbeda. Sekitar 15 menit kemudian, pola gelombang otak klien sinkron dengan pola gelombang otak terapis.

Cade juga menemukan bahwa terapis dapat memengaruhi dan membuat pola gelombang otak klien mengikuti pola gelombang otak terapis, walau mereka berada di ruang berbeda.

Menurut hasil penelitian Cade, pola gelombang efektif untuk penyembuhan adalah pola yang ia namakan The Awakened Mind. Saat pola ini goyah, efek penyembuhan juga melemah.

Penelitian intensif yang dilakukan HeartMath Institute, dijelaskan dalam Science of The Heart, menemukan bahwa jantung menghasilkan medan elektromagnetik 100 kali lebih kuat dari yang dihasilkan otak. Medan ini memancar keluar dari jantung, keluar dari tubuh ke segala penjuru, dan dapat dideteksi hingga jarak sekitar 2 meter, menggunakan magnetometer berbasis SQUID (superconducting quantum interference device).

Dari banyak eksperiman yang saya lakukan di pelatihan Quantum Life Transformation, diketahui bahwa vibrasi (pikiran dan emosi) yang terpancar dari tubuh individu dapat dirasakan dan memengaruhi individu lain hingga sejauh 20 meter, dan bahkan bisa lebih jauh lagi.

Dari penelitian HeartMath Institute diketahui terdapat dua pola gelombang yang dihasilkan jantung, koheren atau tidak koheren. Dan ini dipengaruhi oleh emosi yang dialami individu. Emosi-emosi positif seperti cinta, rasa terima kasih, syukur, apresiasi, bahagia, dan sejenisnya menghasilkan pola koheren. Sementara emosi negatif seperti marah, dendam, kecewa, sedih, terluka, frustrasi, tertekan, dan berbagai emosi negatif lainnya menghasilkan gelombang tidak koheren.

Gelombang elektromagnetik yang dipancarkan individu memengaruhi individu lain di dekatnya, melalui komunikasi energetik yang beroperasi di bawah tingkat kesadaran individu. Dari hasil penelitian ini diketahui dapat terjadi sinkronisasi pola gelombang jantung yang sangat baik antara satu individu dengan lainnya, bila mereka memiliki kedekatan relasi kerja.

Dari pernyataan ini dapat disimpulkan bahwa relasi terapis dan klien, dalam kerja mengatasi masalah klien, menjadi salah satu faktor penting agar terjadi sinkronisasi pola gelombang jantung di antara mereka.

Temuan penting disampaikan Christine Caldwell Bair (2008) dalam artikelnya The Heart Field Effect: Synchronization of Healer-Subject Heart Rates in Energy Therapy, yang menyatakan bahwa hasil studi menunjukkan sinkronisasi detak jantung yang signifikan secara statistik, antara penyembuh dan subjek yang menjalani intervensi.

Masih banyak pemikiran, tulisan, dan temuan para pakar yang saya baca, khususnya tentang pengaruh sikap, tingkat rasa percaya diri, vibrasi, energi psikis, konsentrasi, dan “kejernihan” hati terapis terhadap diri klien, proses dan hasil terapi. Akan sangat panjang bila saya tulis semuanya di sini.

Pengalaman saya berpraktik sebagai hipnoterapis klinis sejak tahun 2005, menggunakan pendekatan eklektik integratif, dan juga dari berbagai temuan saat saya melakukan supervisi dan bimbingan pada para hipnoterapis AWGI, dan dari berbagai diskusi proses terapi yang kami lakukan, semuanya sejalan dengan hal-hal yang telah saya paparkan di atas. Berikut ini saya jelaskan secara ringkas yang kami temukan.

Rasa percaya diri dan keyakinan terapis akan kompetensi dirinya, bahwa ia mampu menangani dan membantu klien mengatasi masalahnya, sangat penting dan menentukan proses dan hasil terapi. Terapis yang tidak sepenuhnya yakin dan percaya pada kemampuan dirinya, pasti gagal membantu klien, terlepas dari teknik apapun yang ia gunakan.

Ketidakyakinan terapis ini terungkap dan ditangkap oleh pikiran bawah sadar klien, baik melalui komunikasi verbal (diksi, tekanan suara, dan intonasi ), maupun nonverbal (bahasa tubuh dan energetik).

Niat dan keyakinan yang kuat terpancar dari diri terapis memengaruhi tidak hanya fisik namun juga pikiran sadar dan pikiran bawah sadar klien. Dan ini berdampak signifikan pada proses dan hasil terapi.

Saya sering menemukan, saat membaca laporan kasus para hipnoterapis pemula AWGI, mereka menangani masalah A. Namun dalam proses terapi, karena mereka masih kurang pengalaman, masalah yang diterapi bukan A namun B. Yang luar biasa adalah masalah A juga turut terselesaikan.

Saya meyakini ada hal lain, selain proses terapi formal kasat mata, bekerja di latar belakang dan menghasilkan dampak terapeutik positif luar biasa ini. Dan kini saya lebih mengerti apa yang terjadi setelah menghubungkan banyak informasi yang telah saya dapatkan dari berbagai sumber.

Terapis walau memiliki kompetensi terapeutik tinggi, tetap perlu menyiapkan diri dengan sungguh-sungguh, baik secara fisik, pikiran, emosi, dan spiritual, sebelum jumpa dan melakukan terapi klien, agar mencapai hasil optimal dari kegiatan terapi yang ia lakukan.

Saat relasi terapeutik telah terjalin antara terapis dan klien, saat klien percaya sepenuhnya pada terapis yang akan membantu dirinya, vibrasi dan energi terapis memengaruhi klien secara positif melalui komunikasi energetik.

Untuk mencapai hasil terapi maksimal, sangat penting bagi terapis untuk menjaga kesehatan fisik, emosi, kualitas berpikir, suasana hati, dan koherensi pola gelombang jantungnya, konsisten mengasah dan meningkatkan kompetensi dan kematangan terapeutiknya.

Dari sejumlah informasi yang telah dipaparkan, jelas sekali bahwa hipnoterapi bukan sekadar proses terapi satu arah yang dilakukan terapis pada klien, melalui komunikasi verbal, mengakses dan memberdayakan pikiran bawah sadar klien dengan bantuan kondisi hipnosis.

Hipnoterapi bukan sekadar klien datang, diwawancara oleh terapis, dituntun masuk kondisi hipnosis, dan selanjutnya terapis melakukan terapi berbasis sugesti atau penyelesaian akar masalah.

Keefektifan hipnoterapi tidak hanya ditentukan oleh ketepatan sugesti atau teknik yang digunakan, namun lebih dari ini. Terdapat banyak aspek lain, disadari atau tidak, turut terlibat, bekerja, dan secara signifikan memengaruhi proses dan hasil terapi.

Dengan kejernihan dan pemahaman yang diperoleh, dihimpun baik dari literatur maupun pengalaman praktik, Adi W. Gunawan Institute of Mind Technology telah dan sedang mengembangkan hipnoterapi model baru, hipnoterapi yang dilakukan dengan memanfaatkan segenap daya diri terapis dan klien, untuk kebaikan klien sebesarnya. Hipnoterapi model baru bukan sebuah kemungkinan, namun keniscayaan.

Demikianlah adanya…

Demikianlah kenyataannya…

Baca Selengkapnya
Tampilan : Thumbnail List